Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Galaunya hati berharap pada manusia...

Ups! Hari ini lagi-lagi wajah akhwat manis itu (kata orang begitu) kehilangan moodnya alias menjelma menjadi akhwat moody yang menyebalkan bagi sebagian orang tak terkecuali dirinya. Lihatlah, ia uring-uringan hanya karena menemukan jawaban tak puas dari atasannya yang super sibuk dengan urusannya yang menurutnya nggak kelar-kelar. Pada akhirnya ia menarik kesimpulan sendiri…”Berharap pada Manusia buat stress! Berharap ama Allah Swt, nggak ada matinya!” Ia merasakan itu, sakitnya hati saat apa yang ia harapkan hanya tetap pada angka “nol”, tidak berubah meski maju-mundur ia bertemu, menantang dua bola mata. Sebab ia malu dengan segala janji “kampanye” yang pernah disuarakan meski lewat bahasa iklan di radio atau bahasa slogan di brosur yang totally semua menjanjikan sesuatu yang belum ada gambarnya. Saat confirm sekalipun, mereka menolak saat sang akhwat bilang “jualannya keren’. Mereka bilang “niat”. Hehe…sang akhwat ternyata egois! Tetap ngotot dengan memberikan batas ...

Karena Cinta tak Melupakanmu (4)

EMPAT “Ki-ta di-ma-na?” Aku menatap wajah Cinta, mencoba menarik senyum meski hambar. Bagaimanapun juga pertanyaannya barusan menunjukkan bahwa alzemir telah membuatnya bingung, bahkan lupa kembali dalam bilangan menit. Aku memapahnya memasuki pekarangan rumah mungil, sederhana milik kami. Masih terasa kenangan disetiap sudut rumah ini, kenangan yang hanya bias menjadi reminder bagiku, tidak bagi Cinta. Tes! Aku sukses membuat cinta menoleh, menatap airnmataku yang jatuh di atas punggung tangannya yang bersih. Bibirnya sedikit bergerak, dengan mata gemintangnya yang sorotnya mulai redup. Aku cengeng bukan? “A-ir?” Tanyanya pelan. Cepat aku menghapus airmata yang menggenangi hingga mencipta kabur pada pandanganku. Aku mencoba mengalihkannya pada pertanyaannya tadi. “Ini rumah kita. Ada aku juga kamu…” Nafas cinta berhembus keluar, melewati sisi kanan kepalaku. Rambutnku sedikit bereaksi karenanya. “Mas, biar saya yang bawa…”Suster Rita muncul, memberikan ruang...

Berapa gajimu?

Hari yang membahagiakan bagi seorang karyawan (biasa)nya ada di awal bulan dalam setiap bulannya. Bukan karena mendapatkan hadiah besar atau jalan-jalan plesiran ke luar negeri. Itu karena isi ATM yang tadinya minim angka tiba-tiba menjadi angka maksimal. Atau bagi yang tak punya ATM tiba-tiba memperoleh amplop cokelat dan dompetpun berisi tebal. Yaah…manusiawi-lah itu saya kira. Namanya juga hidup, semua pasti membutuhkan uang untuk menunjang kebutuhan primer maupun sekunder. Namun terkadang uang itu hanya sekedar mampir di dompet.ATM, tiba-tiba sudah beralih kepemilikan karena ini-itu. Suatu ketika saya pernah ngobrol santai di angkot bersama satu orang ibu. Bercerita ringan tentang “apa sih rezeki itu?” “Kadang kita menyimpan uang yang banyak, tiba-tiba saudara kita atau yang lain butuh. Maka uang yang kita simpanpun beralih menjadi milik mereka..” “itu karena uang itu bukan milik kita, bukan rezeki kita..jadi usahlah disesali..” Saya tersenyum kala itu. Membenark...

Pentingnya komunitas

Mood memang selalu maju-mundur. Olehnya mood sebagai penulis memang harus tetap dijaga agar benar-benar mampu teratasi. Salah satunya adalah dengan bergabungnya seorang penulis pada sebuah komunitas yang juga berada dijalur yang sama. Apa fungsinya? Fungsi komunitas mampu menstabilkan mood saya kira. Sebab motivasi akan terus hadir saat kita membaca setiap oretan mereka. alih-alih kita akan terpacu untuk dapat (juga) produktif meski hanya satu tulisan atau beberapa kalimat dalam sehari. Bukan hanya menjadi pembaca saja, tapi juga menjadikan komunitas sebagai tempatnya belajar-tempatnya share . Mengapa? Sebab kualitas seorang penulis dilihat bukan hanya produktifnya dia melahirkan sebuah karya, tapi juga bagaimana seorang penulis mampu men”cerdaskan” dirinya dalam olah kata-. Tak berpuas diri hanya karena sudah (merasa) berhasil menulis beberapa judul artikel, esai dll. Penulis harus kaya. Kaya imaji, kaya kreatifitas, kaya akan teman-sahabat-kaya akan komunitas. Tak susah ...