PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter sejatinya memang di ajarkan sejak
usia dini agar membekas pada prilaku anak-anak. Semua dimulai dari rumah lalu
membangun kerjasama dengan sekolah. Sekolah tak bisa membangun karakter sendiri
tanpa bantuan dari rumah dikarenakan anak-anak banyak menghabiskan waktunya di
rumah, sekolah, dan lingkungannya.
Jika karakter baru dibangun saat anak-anak menginjak
usia dewasa banyak hal yang mewarnai mereka diluar sana dan mereka sudah
terlalu pintar untuk bisa menjadi pengikut zaman. Maka akan berbeda saat
karakter diperkenalkan kepada anak diusia dini.
Tahun 2003 pemerintah Indonesia menyadari tantangan
dan kekeliruan dalam penyelenggaraan
pendidikan di negara kita. Maka pemerintah mengambil kebijakan untuk
menggalakkan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional. Namun
nyatanya terlalu sulit untuk menerapkan budaya karakter ini pada pendidikan
kita. Lalu apa yang salah? Bahkan dalam kurikulum 2013 pun karakter tetap
menjadi paket untuk dilaksanakan disetiap ruang kelas. Nyatanya karakter bangsa
kita tetap saja begitu-begitu saja meski tahun 2003 sudah berlalu berapa
dasawarsa-pendidikan karakter masih menjadi pekerjaan rumah bagi negera ini.
Sebuah kesempatan yang merupakan wujud penasaran
mengantar langkah saya sampai ke Jepang. Kita belajar dari sebuah negara yang
saat ini berkembang pesat di asia. Jepang. Negara yang berhasil membangun
budaya berkarakter bagi negaranya. Ternyata semua tak lantas dibangun dalam
hitungan sekejap. Pemerintah Jepang butuh formula bagaimana membuat Jepang
mampu membangun dirinya menjadi negara yang diperhitungkan di asia. Jepang
membangun karakter dimulai dari generasinya yaitu sekolah dasarnya bahkan usia
PAUD.
Jepang memulai dengan membangun persamaan persepsi
antara pentingnya pendidikan dengan masyarakatnya. Semua pihak di Jepang
mengerti arah tujuan pendidikan mereka adalah untuk mencapai kemajuan atas
negerinya, maka semua dimulai dari membangun karakter yang berjangka panjang.
Selain itu kurikulum sekolah mereka dibangun
sedemikian rupa untuk pembentukan dan pengembangan karakternya. Maka kita
mengenal Jepang sebagai negara yang budaya antrinya sangat terjaga, kebersihan
menjadi tanggung jawab seluruh penduduk kotanya, maka bisa dikatakan kita tidak
menemukan sampah berserakan di sekitar jalan. Pengaturan pembuangan sampah pun
teratur dengan baik. Maka semua tak terlepas dari budaya karakter negara ini
yang sukses terbangun.
Bahkan jauh sebelum Jepang membentuk karakter
negaranya, Islam sudah lebih dahulu mengajarkan pentingnya membangun karakter
di usia dini. Kita tahu bagaimana seorang Lukman memberikan hikmah besar bagi
anaknya hingga diabadikan dalam qur`an yang dijadikan sumber rujukan sampai
saat ini. Ini bukan lain semua berbicara adab atau karakter. masyaAllah,
sungguh agama kita jauh lebih peduli terhadap perkara ini, maka kewajiban kita
bersama-sama mengantar anak-anak kita menjadi pribadi yang memiliki karakter
yang sesuai dengan ajaran Islam, sesuai pula dengan zaman dimana mereka tumbuh,
yang tantangannya semakin besar.
Pertanyaannya, apakah kita mau mengambil peran ini
bersama? Yah wajib bagi setiap orang untuk saling menopang dalam kebaikan.
InsyaAllah akan ringan jika semuanya saling bahu-membahu demi terbangunnya
kekuatan karakter di sekolah kita, sekolah dasar khususnya. Lalu bagaimana
memulainya? Mulailah dari yang paling kecil, kemudian dimulai secara terus
menerus baik di sekolah ataupun rumah. Kita tidak lantas menerapkan banyak
karakter demi suksesnya harapan kita, sebab dengan begitu fokus kita akan
terpecah. Maka bismillah mulainya dari hal terkecil. Jika hal itu sukses
diterapkan InsyaAllah akan menjadi pembiasaan yang baik.
Komentar
Posting Komentar