Postingan

Aku dan benda 14 inci itu

MIMPIKU terhalang karena tak memiliki sarana saat ingin memindahkan naksah dari buku untuk diketik menjadi naskah utuh. Itu terjadi disaat jelang semester akhir saat dimana gemuruh pada dadaku akan harapan-impian-dan cintaku akan naskahku tumbuh. Tumbuh greget justru saat-saat jelang penyusunan skripsi. Aku menyadari kekurangan orangtuaku untuk dapat memberikan sesuatu “mesin tik, computer atau laptop” hanya akan berhenti dianganku. Sebab yang pernah kubilang orang tuaku bukan lah bertitle borju dengan dompet tebal, dengan semua hal yang kami butuhkan ada saat meminta. Orang tuaku boleh tak borju, tapi insyaAllah mereka “borju” untuk urusan akhirat. Allah swt selalu punya rencana indah. Di tempat kuliah yang kebetulan saat itu aku menjadi pengurus BEM diberikan ruang dimana disanalah terletak benda 14 inci itu. Hitam dengan tuts-tutsnya yang berbunyi kencang. But dari sinilah seberkas harap yang masih tersisa bersinar terang. Aku mendapat restu untuk menggunakan computer BEM...

Belajar dispilin dari shalat

DISIPLIN itu sederhana, sangking sederhananya hanya orang tertentu yang dapat hidup diatur dengan kedisiplinan. Banyak artikel yang menuliskan tentang manfaat disiplin dalam segala hal dapat memberikan efek yang sangat baik dalam pekerjaan apapun. Bahkan beberapa Negara menerapkan kedispilinan adalah hal yang sangat penting dalam tatanan negaranya. Sebutlah Negara itu Jepang, dengan luas wilayah yang tak sebesar Indonesia, tak strategis Indonesia, juga sangat berpotensi akan bencana dibandingkan Indonesia. Tapi, lihatlah, diantara dua Negara ini malah justru Jepanglah negera Asia yang pertama kali masuk dalam jajaran Negara maju, bukan Indonesia. Padahal Indonesia punya banyak plus yang seharusnya bisa menempatkanyya sebagai Negara Maju. Jepang luar biasa disipilin bahkan Negara ini menerapkan disiplin dimulai dari budaya antre. Antre adalah kebiasaan yang luar biasa melatih kesabaran. Bayangkan sosok kita yang antre dikasir pembayaran saat belanja bulanan. Setiap beberepa det...

Passion such as favorite fruit

Beda redaksi kalimat maka beda pula apa yang akan menjadi pandangan orang lain. Selalu menarik saat menyampaikan tentang passion. Beda rasa tentunya saat kita menyampaikan sesuatu yang bukan bidangnya kita, dan tidak dikuasai baik oleh kita. Saat kita menyampaikan sesuatu yang menjadi passion kita maka gemuruh cinta pada dada, detak jantung gegap-gempita, bahkan rona pada wajah pun luar biasa.  Bagiku, passionku luar biasa, aku menikmatinya seperti aku menikmati lumernya cokelat, rintik hujan dan aroma tanah kering, bahkan seperti aku sedang mengigit perlahan-lahan buah kesukaanku. that simple! sebab ada cinta saat aku menbicarakannya-menceritakannya. Tak pernah lelah rasanya untuk terus menjadikannya topik paling keren saat bersama siapapun, termasuk siswaku di ruang kelas bahasa. Suatu ketika aku melakukan percobaan sederhana tentang deteksi rasaku tentang passionku dengan pekerjaan yang kugeluti saat ini sebagai pendidik di sebuah sekolah swasta yang full day. terny...

Apa kabar generasi?

Bukan pemandangan biasa kukira, saat aku menyaksikan wajah polos dengan seragam sekolah menghampiri setiap pejalan kaki, pengguna jalan kendaraan roda dua atau empat saat lampu merah dengan membawa botol minuman meminta uang/sumbangan, menjaja Koran, atau malah duduk di jembatan penyeberangan duduk memelas dengan tangan menengadah. Bukan hal biasa. Sore ini aku menemukan generasi-generasi ini berkeliling meminta uang pada orang-orang yang terjebak lampu merah. Tiga anak kecil usia SD yang seharusnya tidak berfikir keras mencari biaya hidup, atau mereka bukan usia yang layak untuk dipekerjakan. Mereka seharusnya duduk belajar-membekali diri untuk masa depan. Tapi, bagaimana kalau hidup mengharuskan mereka ada disepanjang jalan?. Aku percaya segala sesuatu pasti ada solusinya, termasuk tentang generasi kita ini. Olehnya aku sangat mengapresiasi usaha seorang teman dan mereka yang peduli akan nasib generasi dengan mempersiapkan rumah singgah, membekali mereka dengan nilai agama...

Pajak akhirat....?

Boleh dong ya, aku bertanya tentang perjalanan panjang pajak yang dikenai padaku, pada pemilik kendaraan, bangunan Dan sebagainya Hari ini ikut Antre Di sebuah kantor yg Berniat sama-sama membayar pajak, dan Sudah pasti taat pada aturan pemerintah. Sama pemerintah aja taat noh, lewat satu Hari mikirnya bayar denda berapa ya? Lalu iseng pikirku bertanya... "sama Allah swt taat tidak? " telat melakukan shalat misalnya, mikir Kagak dengan dendanya Allah? (nyengir..) Yah, Hari ini saat Antrean yg lumayan lama, aku sang pemilik Tanya "Pajakku, kemana? " sedikit merenungi betapa Naifnya aku, menyedihkan pula.... Sama Allah yang benar2 menfasilitasi diri Kok Stok Takutnya lebih banyak ama pemerintah ya, polis ya? Hadeh... Sepertinya wajib untuk lebih belajar, lebih memahami agamaku ini.... Sudut pandang dunia.. (Cie) Pajak saat Tak dibayar paling juga hanya di denda beberapa, telat? Paling dimarahin sedikit, nggak make dipukul segala... (Ia Khan?)  paling malu se...

Ahsan wa sahlan, saudaraku..

Selalu begini saat mendengar kabar berita tentang mereka yang melakukan perjalanan spiritual yang panjang akhirnya memeluk Islam sebagai agamanya, sebagai penuntunnya hingga akhir usia. Selalu perasaan bangga menyelimuti akan kemegahan agamaku ini, kesucian agamaku ini, meski sebagian orang mencaci-makinya bahkan terus berupaya membuat makar agar agama ini tenggelam. tapi, Allah Swt tak pernah mengizinkannya, meski ujian besar terjadi dalam hidup. Selalu iri pada mereka yang berproses-menemukan cinta Allah Swt secara individu, tidak menerimanya karena orang tua mereka Islam sejak lahir. terlepas dari apapun nama yang diberikan, Islam turunan atau apalah itu, tetap ada kebanggaan sebab terlahir sebagai seorang Muslim.  Kenapa aku iri bahkan bisa dikatakan cemburu? itu karena aku iri hati pada mereka yang saat menemukannya, mereka kaffah melaksanakan Islamnya, mempelajarinya hingga akar-membiarkan pondasi iman menghujam hati, aku iri karena aku tak sempurna memiliki cinta ...

(Novel) Gw Bilang Cinta - selesai

Selesai               09:00 pagi, tatkala masuk areal parkir Real Generation, semua akan langsung tahu, apa perhelatan yang akan diadakan didalam sana, diaula yang sekelilingnya dipenuhi pohon pinus juga pepohonan rindang serba hijau. Alami. Pada dinding bangunan lantai dua, sebuah spanduk besar terpampang jelas. Spanduk yang menggambarkan akan perhelatan akbar itu.               “Silahkan bubuhkan signature nya disini ibu, bapak…” Ucap Zihan lembut dengan senyum yang terus menerus di setorkan. Zora yang berdiri disampingnya sampai bete berat karena bibir juga wajahnya kaku dituntut untuk senyum dan senyum.               “Han, Gue capek senyum mulu…” Bisiknya membuat Zihan mencubit paha Zora dari bawah.               “...